potensi perpustakan dalam menghadapi krisis sosial budaya

Oleh : Prof. Dr. Sulistyo-Basuki

( diluncurkan pada acara Seminar Perpustakaan Sebagai Agen Perubahan Sosial )

   

1. Pendahuluan

 

Perpustakaan merupakan salah satu pranata sosial yang telah ada sejak zaman purba. Dalam perjalanannya yang panjang perpustakaan mengalami berbagai perubahan sosial budaya, misalnya perkembangan Renaisans, Pencerahan, Penjajahan, perkembangan teknologi informasi dan kini Internet. Dalam perkembanganya selama hampir 3000 tahun itu berkembang berbagai prinsip kepustakawanan yang mewarnai keberadaan perpustakaan. Prinsip tersebut ditarik dari perjalanan sejarah perpustakaan. Di sini akan disebutkan beberapa prinsip yang ada kaitannya dengan topik di atas.

 

2. Perpustakaan diciptakan oleh masyarakat.

 

Sejak zaman dahulu hinga sekarang tujuan perpustakaan selalu identik dengan tujuan masyarakat. Hal tersebut terjadi karena perpustakaan merupakan hasil ciptaan masyarakat, bukan sebaliknya. Sebagai contoh, raja Assurbanipal (669 – 663 SM) dari Babylonia mendirikan perpustakaan kerajaan yang besat di kota Niniveh sekitar tahun 600 SM. Perpustakaan tersebut tidak saja berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil seni dan pengetahuan masyarakat Babylonia, tetapi juga bertugas menyebarkannya kepada masyarakat. Di Mesir, Ptolemeus Soter yang berkuasa antara tahun 323 – 285 SM membanguan perpustakaan Alexandria yang menjadi pusat intelektual selama hampir 9 abad. Setelah terbakar pada tahun 900 an, kini perpustakaan tersebut dipugar oleh Unesco. Pada abad menengah, gereja mendirikan perpustakaan gereja dan biara yang berfungsi menyimpan karya gereja dan menyebarkannya kepada masyarakat.

 

Pada akhir abad 19 dan awal abad 20, pemerintah di Amerika Utara dan Eropa Barat mendirikan perpustakaan umum. Pembangunan perpustakaan umum untuk menunjukkan bahwa keberadaan perpustakaan bukan saja untuk golongan atas belaka sebagaimana pernah terjadi pada abad-abad sebelumnya, melainkan juga perpustakaan untuk kepentingan golongan menengah dan ke bawah. Sepanjang sejarahnya, perpustakaan selalu membantu penyebarluasan pendidikan informal dengan cara menyediakan kemudahan belajar.

Hubungan antara masyarakat dengan perpustakaan juga nampak pada pembangunan gedung perpustakaan. Perpustakaan dianggap prasarana penting sehingga orang-orang pada zaman dahulu selalu menempatkan perpustakaan di kuil, istana, biara, katedral serta tempat lain yang dianggap penting. Hal tersebut ditiru juga pada masa kini sehingga perpustakaan yang besar selalu berada dii tengah kota. Perhatikan misalnya Bibliotheque Nationale di Paris, Lenin State Library di Moscow, British Library yang memiliki gedung yang megah.

 

3. Perpustakaan dipelihara masyarakat

 

Karena perpustakaan diciptakan oleh masyarakat maka masyarakatpun berusaha memelihara hasil karyanya. Hal tersebut nampak jelas manakala kita melihat sejarah perpustakaan. Banyak gangguan terhadap perpustakaan misalnya revolusi, gejolak politik, maupun pertentangan agama di samping bencana alam. Sebagai contoh perintah pembakaran buku serta reaksi terhadap perintah tersebut. Misalnya pada tahun 212 SM Kaisar Shih Huang-ti memerintahkan pembakaran semua buku kecuali buku pertanian, agama dan kedokteran. Ternyata tidak semua rakyat melaksanakan perintah tersebut karena banyak buku yang disembunyikan para petani kelak akan mengisi koleksi perpustakaan yang didirikan sesudah kaisar mangkat.

Perpustakaan Alexandria yang didirikan oleh Ptolemeus terbakar semasa pemerintahan Julius Caesar pada tahun 48 S.M. Pada awal perkembangan agama Kristen, orang-orang Roma yang menyembah kaisar sebagai dewa membakar buku tentang agama Kris-ten. Sebaliknya kemudian terjadi, penganut agama Kristen membakar buku penyembah berhala. Di Inggris ketika raja Henry VIII berkuasa, biara diperintahkan ditutup sedangkan bukunya disita. Pada tahun 1930 an kita menyaksikan pembakaran buku karangan orang Yahudi oleh Hitler. Pada tahun 1948 tatkala tentera Belanda menyerbu Yogyakarta, para dokter yang menjadi dosen fakultas kedokteran menyelamatkan koleksi buku perpustakaan dengan mengungsikannya ke Klaten. Di Indonesia pada tahun 1960an terjadi pem-bakaran oleh PKI terhadap majalah dan buku yang dianggap ciptaan neokolonialisme dan imperialisme maupun karya pengarang yang tergabung dalam kelompok Manifesto Kebudayaan.

 

Jadi sepanjang sejarah selalu ada usaha untuk menghancurkan buku yang disimpan di perpustakaan. Sebaliknya pula, masyarakat pun berusaha mengamankan perpustakaan. Secara fisik, pengamanan perpustakaan kuno dilakukan dengan menempatkan perpustakaan (baca buku) di bagian yang aman, pada sebuah kuil atau istana. Kuil atau istana merupakan bangunan yang kokoh sehingga buku akan lebih aman disimpan di tempat tersebut daripada tempat lain. Dalam berbagai gejolak sosial maupun revolusi, keberadaan perpus-takaan selalu tidak dilupakan masyarakat. Semasa puncak revolusi Perancis, semua perpustakaan milik lembaga keagamaan disita, kemudian koleksinya ditempatkan di berbagai pusat penyimpanan yang tersebar di seluruh Perancis. Semuanya itu mempunyai hikmah karena beberapa tahun kemudian setelah revolusi berakhir, buku sitaan dijadikan cikal bakal perpustakaan nasional Prancis. Semasa revolusi Rusia serta pasca revolusi (sekitar tahun 1918- 1923) sejumlah besar buku, bahkan seluruh buku milik perpustakaan pribadi Czar, dipindah ke perpustakaan yang ditunjuk penguasa baru. Koleksi ini nantinya berkembang menjadi Perpustakaan Negara Lenin yang tidak lain daripada perpustakaan nasional Uni Soviet. Di Indonesia, semasa pendudukan Jepang (1942-1945), tindakan per-tama balatentera Jepang ialah mengamankan koleksi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap di Batavia (kini Jakarta) yang berada di lingkungan markas besar Kempeitai (polisi rahasia Jepang). Koleksi ini kelak menjadi inti Perpustakaan Nasional Republik In-donesia. Sebelum itu ketika Majapahit runtuh, bangsawan maupun biarawan menyelamatkan berbagai naskah kuno ke tempat lain. Maka pembaca akan sering menjumpai bahwa berbagai manuskrip seperti Negarakertagama justru ditemukan di Bali atau Lombok.

 

Dari uraian di atas nyatalah bahwa kekuasaan di luar perpus-takaan dapat merupakan kekuatan yang dapat menghancurkan perpus-takaan. Sebaliknya pula, masyarakat (merupakan kekuatan di luar perpustakaan namun perpustakaan merupakan bagian darinya)pulalah yang menciptakan sekaligus memelihara perpustakaan.

   

4. Perpustakaan didirikan dengan maksud untuk menyimpan dan memencarkan ilmu pengetahuan.

 

Tatkala raja Assurbanipal membangun perpustakaan kerajaan di Nineveh, sang raja sadar bahwa sebenarnya ia membangun sebuah gedung untuk menyimpan buku pengetahuan mengenai keagamaan, sejarah, geografi, hukum serta karya lainnya yang diketahui ter-bit semasa itu. Ia menyatakan bahwa perpustakaannya terbuka untuk semua kawulanya.

Perpustakaan Alexandria didirikan bukan saja untuk menyimpan buku berbagai pengetahuan melainkan juga untuk menyebrkan ilmu pengetahuan. Karena sifat keterbukaannya, maka perpustakaan Alexandria dikunjungi banyak ilmuwan dari sekitar Laut Tengah. Selama hampir 900 tahun perpustakaan Alexandria menjadi mercu suar ilmuwan yang memerlukan informasi berbagai ilmu pengetahuan.

 

Pada abad menengah, prinsip kepustakawanan yang ketiga ini tetap dianut walaupun tekananan kepustakawanan lebih banyak ditujukan kepada penyimpanan daripada penyebaran buku. Prinsip penyimpanan (storage) waktu itu malahan lebih mengarah ke “pengawetan” (conservation) artinya disimpan sebagai koleksi. Prinsip pengawetan tersebut demikian kuat sehingga timbul ungkapan bahwa sebuah perpustakaan biara tanpa buku ibarat ben-teng tanpa senjata. Hal ini diungkapkan dalam kalimat “Claustrum sine armario, claustrum sine armamentario”.

Prinsip kepustakawanan tersebut tetap dipegang teguh hingga sekarang. Perpustakaan bertugas menyimpan buku dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh berbagai perpus-takaan nasional yang ada di berbagai negara telah dikunjungi jutaan pengunjung termasuk negarawan, sastrawan, ilmuwan maupun pengunjung awam lainnya. Maka pustakawan dari The British Library sering menunjukkan tempat ,,walaupun belum tentu tepat, di mana Karl Marx membaca di perpustakaan selama menulis buku Das Kapital.

 

Sepanjang sejarah manusia, perpustakaan merupakan satu- satunya pranata ciptaan manusia tempat manusia dapat menemukan kembali informasi yang permanen serta luas ruang lingkupnya. Masyarakat selalu mengatakan bahwa perpustakaan mempunyai efek sosial,ekonomi, politik dan edukatif. Karena imbas tersebut, maka timbul kontra efek berupa perusakan dan pembakaran perpustakaan. Hal yang disebut terakhir initerjadi juga dalam sejarah manusia. Bila perpustakaan hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku saja, bukannya juga menyebarkan ilmu pengetahuan, maka imbas dan efeknya tidak akan sedramatis seperti yang kita saksikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Bila ilmu pengetahuan hanya disim-pan saja, tidak disebarluaskan, maka ilmu pengetahuan akan man-dek. Ilmu itu mungkin akan tumbuh lagi kemudian namun hal ter-sebut memerlukan waktu yang lama, pengorbanan waktu, tenaga, uang. Ibaratnya kita tidak perlu menemukan roda lagi. Karena itu ilmu yang disimpan dalam wujud buku harus disebarluaskan. Contoh khas terjadi pada kemampuan operasi bedah otak pada orang Mesir kuno. Kemampuan ini hanya dikuasai oleh segelintir ahli yang terkungkung dalam tembok kuil, tidak disebarkan, malahan dirahasiakan. Alhasil kemampuan itu bukannya berkembang justru membeku untuk pada akhirnya dirintis lagi oleh orang Eropa pada abad ke 18.

    

5. Dapatkah perpustakaan menjadi agen perubahan?

 

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu meninjau terlebih dahulu jenis perpustakaan. Jenis perpustakaan ini berkaitan dengan pemakainya yang merupakan anggota masyarakat. Dari 4 atau 7 jenis perpustakaan 1), dilihat dari sudut bagaimana klasifikasi jenis perpustakaan dilakukan, hanyalah perpustakaan umum yang berkaitan dengan umum. Inipun ditekankan oleh UNESCO melalui Manifesto Perpustakaan Umum. Dalam manifesto tersebut dinyatakan bahwa perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang sepenuhnya dibiayai oleh dana umum, harus dapat diakses bagi semua anggota masyarakat sehingga mensyaratkan gedung perpustakaan memiliki letak yang baik, fasilitas ruang baca dan bbelajar yang baik, teknologi yang memadai serta jam buku yang memungkinkan anggota masyarakat mengunjunginya. Ketentuan tersebut tidak terdapat pada perpustakaan jenis lain seperti perpustakaan nasional, khusus, sekolah dan perguruan tinggi. Koleksi perpustakaan nasional tidak selalu dapat dipinjam umum sedangkan perpustakaan khusus, perguruan tinggi dan sekolah tidak dapat digunakan umum walaupun kini ada anjuran agar perpustakaan sekolah membuka dirinya bagi masyarakat sekitarnya.

 

Kembali ke pertanyaan di atas apakah perpustakaan mampu menjadi agen perubahan, maka jawabannya mampu namun sebatas pada penggunanya. Bila dijawab secara makro, maka perpustakaan bukan agen perubahan karena perpustakaan diciptakan dan dibina oleh masyarakat, juga dirusak oleh masyarakat. Menyangkut perpustakaan sebagai agen perubahan, maka hal tersebut dilakukan dalam bentuk tujuan perpustakaan. Tujuan pertama perpustakaan ialah menyimpan pengetahuan, aspek moral dan politik, untuk pendidikan dan penyebaran pengetahuan.

 

5.1. Menyimpan pengetahuan (knowledge)

Fungsi penyimpanan oleh perpustakaan telah dipelopori oleh Assurbanipal dengan mendirikan perpustakaan kerajaan di Niniveh. Dia dengan sadar menjadikan perpustakaan kerajaan sebagai gudang pengetahuan keagaam, sejarah, geografis, hukum dan ilmu pengetahuan dari semua sudut dunia yang ada pada waktu itu serta dimaksudkan untuk digunakan oleh warganya. Tradisi serupa diteruskan oleh perpustakaan-perpustakaan Alexandria, pertapaan dan biara pada abad menengah, kaum bangsawan menjelang dan sesudah Renaisans, Perkembangan selanjutnya diteruskan oleh banyak perpustakaan besar misalnya Library of Congress yang mengumpulkan buku terbitan seluruh dunia, khususnya dari negara berkembang, dengan dana yang dikaitkan denga ekspor hasil pertanian. Diperkirakan Library of Congress memiliki terbitan Indonesia pasca 1960 lebih lengkap daripada Perpustakaan Nasional RI.

 

Perkembangan Internet mengubah citra perpustakaan, dari perpustakaan tradisional menjadi perpustakaan dijital. Walaupun Internet memungkinkan pengetahuan dapat diakses lebih mudah daripada sebelumnya, tetap saja perpustakaan dalam hal ini perpustakaan dijital menyimpan semua ilmu pengetahuan. Perpustakaan tetap merupakan sebuah institusi manusia di mana seseorang dapat menemukan gudang informasi yang permanen dan komprehensif. Perpustakaan tetap menyimpan media cetak sebagai koleksi utama dan media tersebut hanya tergantikan oleh media lain baca media elektronik) manakala biaya dan kemudahan media elektronik lebih murah dan nyaman daripada media cetak. Hal tersebut mirip dengan peristiwa 500 tahun lalu tatkala mesin cetak ditemukan di Eropa Barat walaupun Cina sudah mengenalnya lebih lama. Waktu itu mula-mula buku hasil cetakan awal (incunabula) tidak dapat menggantikan manuskrip namun kemudian ketika teknologi cetak mampu menghasilkan buku lebih cepat, lebih murah daripada manuskrip, maka kegiatan manuskrip berubah menjadi bagian sejarah. Seperti dikatakan Rutten sebagaimana dikutip oleh IKAPI, dikatakan bahwa “everything is finding its own medium. High content will always be printed as books.”

Prinsip bahwa tujuan perpustakaan ialah menyimpan pengetahuan tetap dianut sampai sekarang. Sudah tentu pengetahuan yang tersimpan di perpustakaan akan sia-sia belaka manakala pengetahuan tersebut tidak disebarkan. Maka prinsip bahwa perpustakaan merupakan gudang pengetahuan kini ditambah sebagai institusi yang menyebarkan pengetahuan. Penyebaran tersebut dipermudah dengan berkembangnya teknologi informasi sehingga muncul konsep perpustakaan dijital (elektronik) yang dapat diakses dari mana saja.

 

5.2. Aspek moral dan politik

Ketika perpustakaan Alexandria didirikan, maka dalam benak pendirinya tersimpan sebuah tujuan politik yaitu perpustakaan mengagungkan budaya Yunani dan karenanya meningkatkan patriotisme dan nasionalisme. Hal tersebut bertentangan dengan Assurbanipal yang menyadari efek moral, sosial dan politik akibat penyebaran pengetahuan sehingga dia menjalankan garis haluan sensor yang ketat.

Pada abad menengah, semua perpustakaan pertapaan dan keagamaan bertujuan mengungkapkan kebesaran Tuhan. Pada masa itu bahkan ada peraturan bahwa setiap rahib harus membaca sedikit-dikitnya dalam 1 tahun satu buku; bilamana dia tidak melakukannya maka dia harus mengaku dosa atas kesalahannya. Konsep ini secara tidak langsung mempengaruhi gagasan sesudahnya yang mengatakan bahwa seseorang dikatakan aktif membaca bila dia membaca sedikit-dikitnya 1 buku per bulan.

Di Eropa Barat, tuntutan atas perpustakaan umum sebagai alasan untuk menentang kejahatan. Pendapat tersebut beralasan bahwa daripada waktu anggota masyarakat dihabiskan di bar dan rumah bilyar maka waktu tersebut lebih baik dihabiskan di perpustakaan atau museum atau taman umum atau olahraga. Namun juga harus diakui bahwa Pendapat tentang pentingnya perpustakaan umum tidak terlepas dari kecurigaan bahwa perpustakaan umum merupakan institusi sosialistik dan ajang pesemaian sosialisme.

Di Amerika Utara, Benjamin Fanklin mendirikan “social library” dengan tujuan self education sedangkan pembentukan perpustakaan umum bertujuan untuk memberi inspirasi “a love of freedom, and an abhorence of slavery.” Hal serupa juga dinyatakan oleh Thomas Jefferson.. Keberadaan perpustakaan umum juga menonjolkan prinsip persamaan karena perpustakaan umum merupakan tempat belajar sehingga anggota masyarakat memperoleh persamaan prvilise, kesempatan dan keberhasilan melalui belajar.

 

5.3. Pendidikan

Perpustakaan merupakan tempat belajar di samping sekolah. Sejarahwan Gibbon pernah mengatakan bahwa pendidikan yang diberikan oleh seseorang pada dirinya melalui otodidak jauh lebih penting daripada pendidikan yang diperolehnya dari seorang guru. Kecenderungan penggunaan perpustakaan umum sebagai tempat belajar menimbulkan istilah “modern library movement” artinya pengembangan perpustakaan sebagai badan pendidikan umum, tidak terhambat oleh tradisi dan kendala waktu sebelumnya serta memberikan inspirasi untuk kegiatan di luar semua visi sebelumnya. Di AS untuk hal tersebut diberikan contoh “social library” yang didirikan Benjamin Franklin. Pemerintah RI mendirikan Taman Pustaka Rakjat 2) pada tahun 1952, tujuan perpustakaan ialah membantu pendidikan masyarakat

 

5.4. Penyebaran pengetahuan

Perpustakaan dianggap sebagai tempat penyimpanan pengetahuan dan penyebaran pengetahuan. Ini sesuai dengan paradigma perpustakaan, yang semula sebagai tempat penyimpanan pengetahuan terekam, kemudian pengolahan lalu penyebaran dengan orientasi kepada pemakai. Dalam perubahan tersebut tugas perpustakaan relatif sama walaupun mengalami perubahan orientasi.

Secara umum tugas pustakawan ada 2 yaitu pertama dia merupakan keeper atau kurator, diberi tugas melestarikan buku untuk kepentingan pembaca masa mendatang serta pustakawan sebagai pusat komunitas organik yaitu perpustakaan, tidak saja memelihara buku melainkan memenuhi kebutuhan setiap anggota masyarakat serta sebagai rangakaian tradisi terekam yang ditangani hari demi hari, diperbaiki, dikemas, diperkuat, ditambahi dan selanjutnya diteruskan ke generasi berikutnya.

 

5.5. Demokratisasi informasi

Dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia dicantumkan hak warga untuk memperoleh informasi. Hal tersebut dikenal sebagai hak informasi. Di berbagai negara dikenal hak tersebut sementara untuk Indonesia baru dalam pengusulan, antara lain akan diusulkan sebagai RUU berdasarkan hak inisiatif DPR. Hak tersebut juga dinyatakan dalam Manifesti Perpustakaan Umum (Unesco) yang menyebutkan bahwa kasa perpustakaan umum antara lai ialah menjamin akses bagi semua warganegara terhadap semua jenis informasi komunitas. Bila hal tersebut benar-benar dilakukan, maka perpustakaan umum merupakan agen demokratisasi informasi karena semua anggota masyarakat berhak memperoleh informasi komunitas. Sudah tentu ada batas-batasnya seperti akses informasi tidak dapat dilakukan bilamana hal tersebut menyinggung privasi, membahayakan keamanan nasional.

Dari perkembangan sejarah serta prinsip kepustakawanan yang ditarik berdasarkan perjalanan panjang sejarah perpustakaan, maka keartian atau murad (significance) perpustakaan adalah sebagai berikut :

(1). Perpustakaan merupakan bumbu utama masyarakat yang beradab.

(2). Perpustakaan itu ada untuk memenuhi keperluan yang diakui masyarakat,;kebutuhan ini akan menentukan bentuk, tujuan, fungsi, program dan jasa perpustakaan.

(3). Kondisi tertentu seperti ekonomi, teknologi, ilmu pen-getahuan, geografi, budaya dan sosial akan mendorong pengembangan perpustakaan. Bila kondisi tersebut tidak ada, maka perpustakaan akan mundur dan bahkan mungkin lenyap dari masyarakat.

(4). Adanya teknologi informasi membuat jasa perpustakaan lebih tersedia dan lebih menarik karena koleksi perpustakaan tidak saja terbatas media tercetak melainkan juga media noncetak dan multimedia.

 

6. Kesulitan yang dihadapi perpustakaan umum Indonesia

 

Bila semua prinsip keterbukaan, demokratisasi informasi dikaitkan dengan perpustakaan umum maka ada beberapa kendala yang menghambat peranan perpustakaan umum sebagai agen perubahan sosial. Adapun kendala tersebut akan diuraikan di bawah ini.

   

6.1 Perpustakaan didirikan oleh pemerintah

Keberadaan perpustakaan umum ditentukan oleh pemerintah daerah sehingga visi dan pengetahuan kepala daerah tentang perpustakaan akan menentukan eksistensi perpustakaan umum. Bila disebutkan bahwa eksistensi perpustakaan umum ada kaitannya dengan kinerja pemerintah daerah, misalnya dahulu dalam perebutan Parasamya Purna Nugraha, maka kepala daerah akan menyetujui pendirian perpustakaan umum selama hal tersebut ikut dipertimbangkan dalam perebutan Parasamya, bila keberadaan perpustakaan umum tidak dipertimbangkan maka eksistensi perpustakaan umum akan menjadi kabur.

Dengan mendekatnya otonomi daerah, maka keberadaan perpustakaan umum akan sangat didominasi oleh kepala daerah (kabupaten dan kota). Walaupun ada pengecualian, umumnya kepala daerah yang berlatar belakang militer (lapangan) kurang menyukai hal-hal yang berbau ilmu pengetahuan karena latar belakang pendidikan mereka. Semasa mereka menjadi taruna, tatkala diajar pengajar sipil mengenai hal-hal yang bertautan dengan ilmu pengetahuan umumnya para taruna kurang berminat atau malahan banyak yang mengantuk. Alasannya ialah kalau mereka terlalu menguasai ilmu di luar ilmu kemiliteran, maka sesudah lulus mereka akan ditempatkan di dinas penelitian dan pengembangan atau lembaga pendidikan, bukannya di pasukan. Penempatan tersebut sedikit banyak menghambat karier mereka karena karier di pasukan atau lapangan akan lebih cepat daripada karier di lembaga litbang atau pendidikan! Padahal yang banyak ditempatkan sebagai kepala daerah adalah para perwira yang pernah memegang pasukan atau teritorial sehingga umumnya setelah menjadi kepala daerah secara tidak langsung kurang berminat akan pendirian perpustakaan umum.

 

6.2 Minat baca dan budaya baca.

Minat baca di kalangan masyarakat sering dikatakan rendah. Sebenarnya minat baca di kalangan anak Sekolah Rendah tinggi berdasarkan berbagai penelitian. Minat tersebut sedikit banyak ditunjang oleh tersedianya bahan bacaan setingkat murid SD. Ketika meningkat ke SMU ternyata di pasaran tidak tersedia bahan bacaan yang setara dengan tingkat mereka sehingga minat baca mereka menurun akibat tidak tersedianya bahan bacaan.

Minat baca yang tinggi semasa masih di jenjang sekolah rakyat itu akan hilang dengan tidak tersedianya bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan umum. Maka hal tersebut akan menghasilkan anggota masyarakat yang kurang minat bacanya sehingga muncul anggapan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang kurang mengenal budaya baca. Dalam hal budaya baca di Indonesia memang benar bila dikatakan masih rendah atau hampir tidak ada karena hampir di semua kegiatan seperti waktu menunggu angkutan umum, perkuliahan, produksi media cetak, tidak mencerminkan adanya budaya baca.

 

6.3. Belum ada biografi yang menyatakan keberhasilanseseorang berkat bacaan perpustakaan umum.

Contoh klasik tentang seseorang yang berhasil berkat bacaan dari perpustakaan umum ialah Andrew Carnegie. Andrew Carnegie datang dari Scotland ke AS sebagai anak seorang miskin. Dia kemudian berhasil sebagai raja baja dan keberhasilannya dinyatakan berkat perpustakaan umum. Maka dia memberi sumbangan untuk perpustakaan umum maupun jenis perpustakaan lain baik di AS maupun di Eropa. Diperkirakan sekitar 2800 perpustakaan memperoleh bantuan dari Carnegie Foundation yang didirikannya setelah dia pensiun.

Di Indonesia belum banyak tokoh yang dalam pidatonya mengutip berbagai buku sebagai sumber pengetahuannya. Para bapak bangsa awal tahun 1950an banyak menyebutkan berbagai sumber buku dalam pidato mereka; sedikit banyak hal tersebut menunjukkan keluasan bacaan mereka. Hal tersebut berbeda dengan periode berikutnya yang hanya menyebutkan ajaran budaya Jawa saja. Dalam biografi tokoh-tokoh Indonesia, lazimnya ditulis oleh orang lain, tidak ada yang menyebutkan keberhasilan mereka karena belajar dari buku yang ada di perpustakaan umum.

 

6.4. Sistem pendidikan yang mengarah ke ujian

Sistem pendidikan mulai dari SD s.d. SMU mengarah ke ujian akhir. Semua pelajaran ditujukan untuk menyiapkan siswa menghadapi ujian akhir. Alhasil sedikit sekali rangsangan untuk membaca buku tambahan. Sebagai contoh siswa hafal salah satu panglima perang Pangeran Diponegoro adalah Sentot Alibasyah Prawirodirjo. Siswa tidak terdorong lebih lanjut untuk mengetahui bahwa Sentot masih berusia 18 tahun tatkala ketika memimpin pasukan berkuda . Dia berhasil menyergap kavaleri Belanda di sungai Bogowonto karena hidung kudanya diberi garam. Hal tersebut tidak akan ditanyakan di ujian, jadi tidak ada gunanya membaca lebih lanjut. Hal tersebut masih diperparah dengan buruknya perpustakaan sekolah, tiadanya jam kunjung ke perpustakaan serta buruknya perpustakaan umum yang seharusnya menunjang perpustakaan sekolah.

 

6.5. Tembok informasi

Selama ini berlangsung kebijakan buku terlarang sehingga banyak masyarakat tidak dapat membacanya. Contohnya ialah pelarangan buku oleh penulis yang tergabung pada Lekra pada akhir tahun 1965. Pelarangan buku berlangsung sampai dengan mundurnya Presiden Soeharto pada tahun 1998. Namun mundurnya Soeharto tidak diikuti dengan pembebasan buku-buku yang dilarang, padahal di Jakarta berbagai buku terlarang dapat diperoleh dengan mudah. Perpustakaan umum sebagai lembaga pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa, hanya menunggu keputusan tanpa berani mengambil kebijakan tersendiri untuk meminjamkan beberapa buku yang dilarang sementara anggota masyarakat melihat di beberapa kota besar, berbagai buku tersebut dapat diperoleh secara terbuka.

Selama bertahun-tahun media massa, kemudian secara tidak langsung ditiru dalam media cetak, hanya membenarkan penguasa sehingga informasi tentang penguasa selalu benar. Media tersebut kemudian di simpan di perpustakaan sehingga masyarakat memperoleh informasi yang tidak selalu benar ataupun mungkin menyesatkan.

Dengan melihat uraian di atas maka perpustakaan hanya memegang peranan kecil dalam menghadapi perubahan sosial budaya. Prinsip bahwa perpustakaan diciptakan dan diperlihara masyarakat memiliki imbas kelangsungan dan keberadaan perpustakaan lebih banyak ditentukan dari masyarakat daripada perpustakaan membina masyarakat. Perpustakaan hanya dapat membantu anggota masyarakat dalam fungsinya sebagai gudang dan penyebar ilmu pengetahuan, membantu pendidikan khususnya pendidikan nonformal yang dilakukan oleh perpustakaan umum. Di segi lain, perpustakaan umum mampu menjadi agen demokratisasi informasi dengan menyediakan akses terhadap informasi komunitas dengan tidak memandang berbagai perbedaan (jenis kelamin, usia, pekerjaan, status sosial, kepercayaan, warna kulit).

 

7. Penutup

 

Keberadaan perpustakaan telah ada sekitar 2500 tahun sebelum Masehi. Selama perjalanan sejarahnya muncul prinsip kepustakawanan bahwa perpustakaan diciptakan dan dipelihara oleh masyarakat. Perpustakaan memiliki berbagai fungsi namun karena diciptakan dan dipelihara masyarakat, maka peranan perpustakaan dalam menghadapi perubahan sosial budaya tidaklah signifikans. Peranan perpustakaan nampak pada anggota masyarakat, bukan seluruh masyarakat. Peranan tersebut dapat dilakukan melalui perpustakaan umum, walaupun untuk Indonesia masih menghadapi berbagai kendala seperti kuragnya fasilitas, hambatan informasi namun kendala itu dapat diatasi dengan bantuan masyarakat.

 

———————————————————————

Anotasi:

 

1) Jenis perpustakaan dapat dibagi menjadi 4 yaitu perpustakaan umum, khusus, sekolah dan nasional atau 7 yaitu perpustakaan internasional, nasional, umum, khusus, sekolah, perguruan tinggi, pribadi.

 

2) Taman Pustaka Rakjat merupakan perpustakaan umum yang didirikan di ibukota provinsi, kabupaten oleh Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan dan dihapus pada awal tahun 1960an karena ketiadaan biaya.

 

———————————————————————–

Bibliografi :

 

50 tahun IKAPI: membangun masyarakat cerdas. Jakarta: Ikatan Penerbit Indonesia, 2000.

McGarry, Kevin. 1993. The changing context of information: an introductory analysis.

2nd ed. London: Library Association Publishing.

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sulistyo-Basuki. 2000. Pengantar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Edisi percobaan.

Thompson, James. 1974. Library power: a new philoso[hy of librarianship. London: Clive

Bingley.

Thompson, James. 1977. A history of the principles of librarianship. London : Clive Bingley.

Unesco. 1992. Unesco Public Library Manifesto. Paris: Unesco.

About these ads

Tentang zaidanzidna

memberi, memberi, memberi
Tulisan ini dipublikasikan di pustaka. Tandai permalink.

4 Balasan ke potensi perpustakan dalam menghadapi krisis sosial budaya

  1. widyaSastra berkata:

    perpustakaan memiliki potensi yang sangat besar dalam menghadapi krisis sosial Budaya saat ini, karena melalui buku-buku koleksi perpustakaan kita dapat memperoleh ‘pencerahan’, memperoleh pengetahuan baru/memperluas wawasan, sehingga tidak terjebak dalam arus globalitas dan modernitas yang secara perlahan tapi pasti mengikis kebudayaan kita sebagai bangsa Indonesia (Indigenous), namun sangat disayangkan, perpustakaan sepertinya hanya dapat dijangkau oleh anggota masyarakat tertentu, misalnya kalangan akademisi saja, sedangkan bagi masyarakat awam, perpustakaan belum mampu memberikan peranan yang berarti, karena selain kurangnya sosialisasi dari pihak atau lembaga yang memiliki perpustakaan, Kehidupan masyarakat (Indonesia) seolah-olah terjebak dalam lingkaran setan yang tak pernah putus yaitu hanya memikirkan kepentingan ekonomi tanpa mempertimbangkan kearifan lokal yang selama ini digembar-gemborkan.

  2. Indra berkata:

    saya sangat setuju dengan pendapat saudara, yang perlu di garis bawahi adalah kurangnya perhatian pemerintah maupun masyarakat untuk kelansungan suatu perpustakaan. begitupula dalam signifikansi jumlah pengunjung / pembaca padahal semua orang telah mengetahui fungsi sebuah perpustakaan. sehingga fungsi penyebaran informasi tidak berjalan dengan baik tapi hanya fungsi pelestarian buku saja.

  3. Qinimain Zain berkata:

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

    Strategi (R)Evolusi Ilmu Sosial Milenium III
    (Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

    KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana.

    Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008 di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris).

    Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

    PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

    Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

    Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4), menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya.

    KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

    Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?

    Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru.

    Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya).

    Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner, terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

    MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

    Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi. Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi? (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

    Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.

    KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  4. sarastiono berkata:

    Saya memulai dari gemar membaca dirumah dengan Perpustakaan rumah …Home Library. lihat di Perpustakaan Rumah

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s